Gugatan class action vs Facebook segera didaftarkan di Indonesia

Gugatan class action

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Facebook akhirnya digugat terkait kebocoran data di pengadilan Indonesia. Adalah Lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Informasi Indonesia (LPPMII) (penggugat 1), dan Indonesia ICT Institue (IDICTI) (penggugat 2) yang menggugat Facebook ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan melalui tiga kuasa hukum dari kantor hukum Equal & Co.

Sementara tergugat ada tiga pihak, mereka adalah Facebook Inc. (tergugat 1) Yang berkantor di California, Amerika Serikat, Facebook Indonesia (tergugat 2) yqng berkantor di Jakarta, Indonesia, dan Cambridge Analytica yang berkantor London, Inggris.

Kuasa hukum penggugat Jemy Tommy, menjelaskan gugatan diajukan secaraclass action, lantaran ada 1.096.666 pengguna Facebook di Indonesia dari total 87 juta pengguna di dunia yang terkena dampak skandal Cambridge Analytica.

“Kami mengacu kepada Peraturan Mahkamah Agung 1/2002, dari sana kami melihat sudah tepat dan berhak mengajukan class action,” kata Jemy saat dihubungi KONTAN, Senin (7/5).

Sementara pertimbangan hukumnya, dari berkas gugatan yang didapat KONTAN, skandal Cambridge Analytica melanggar beberapa regulaso terkait perlindungan data pribadi. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika 20/2016 tentang Perlindungan Data Pribadi; PP 82/2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik, dan UU 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Rencananya, gugatan ini didaftarkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada hari ini, Senin (7/5). Namun Jemy mengakui masih ada beberapa berkas yang dibutuhkan sehingga pendaftaran ditunda.

“Kita tadi sudah ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, tapi di sana ternyata butuh hingga 10 berkas copy, misalnya yang berbahasa asing dengan penerjemah tersumpah. Namun, surat kuasa sudah kita daftarkan. Paling lambat mungkin minggu depan kita daftarkan,” lanjutnya

Dalam gugatan ini, para penggugat meminta adanya ganti rugi kerugian senilai total Rp 11,21 triliun. Rinciannya Rp 10,96 triliun merupakan ganti rugi imaterial, sementara sisanya senilai Rp 21,93 miliar sebagai ganti rugi material.

Jemy menjelaskan, ganti rugi ini dihitung dari kerugian yang didapatkan pengguna Facebook di Indonesia yang terdampak skandal.Cambridge Analytica.

“Kami menghitungnya tiap pengguna mendapatkan Rp 10 juta rupiah sebagai ganti rugi imaterialnya, dan senilai Rp 20.000 sebagai ganti rugi materialnya. Dikalikan seluruh pengguna Facebook di Indonesia yang terdampak, yang kita dapat angkanya dari siaran pers Kominfo,” papar Jemy.

Dari berkas gugatannya, kerugian material dihitung dari kerugian pengguna dari pembelian pulsa senilai Rp 20 ribu perpengguna. Sementara kerugian imaterialnya dinilai dari pengeluaran-pengeluaran yang tidak

terduga serta segala kerugian yang timbul akibat beban mental dan tekanan psikologis yang telah membuat keresahan, kekhawatiran, ketidaknyamanan, dan menimbulkan rasa tidak aman terhadap para pengguna Facebook di Indonesia.

Kasus kebocoran data pengguna Facebook sendiri bermula dari artikel di koran Inggris The Guardian Maret lalu. Dalam artikel tersebut dinyatakan adanya penjualan data oleh Aleksandr Kogan, pengembang aplikasi This is Your Digital Life di Facebook.

Data pengguna yang menggunakan aplikasi tersebut kemudian dijual Kogan ke Cambridge Analytica, dan digunakan sebagai basis kampanye Donald Trump dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat.

Diperkirakan ada sekitar 87 juta pengguna Facebook yang datanya, sementara di Indonesia prediksinya ada sekitar 1,09 juta pengguna yang kena dampak.

Reporter: Anggar Septiadi
Editor: Sanny Cicilia

Facebook Resmi Digugat Class Action di Indonesia

Facebook Resmi Digugat Class Action di Indonesia

Jakarta – Facebook baru saja kena gugatan class action menyusul kasus penyalahgunaan sejuta data pengguna di Indonesia oleh pihak ketiganya, Cambridge Analytica.

Gugatan ini didaftarkan oleh Indonesia ICT Institute dan Lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Informasi Indonesia (LPPMII) ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

“Kami sudah mendaftarkan class action ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada hari ini,” ujar Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi kepada detikINET di Jakarta, Senin (7/5/2018).

Dalam gugatan class action ini, ada tiga pihak sebagai tergugat, yaitu Facebook pusat yang beralamatkan di Menlo Park , Silicon Valley, Amerika Serikat sebagai Tergugat 1.

Facebook Indonesia yang beralamatkan di Gedung Capital Place, Jakarta disebut Tergugat II dan Cambridge Analytica yang beralamatkan di New Oxford, London, Inggris sebagai Tergugat III.

Mengenai proses selanjutnya, usai mendaftakan class action ini, Heru mengatakan pihak belum tahu tahapan apalagi yang akan dilakukan karena saat ini proses tersebut sudah berada di wilayah pengadilan.

“Biasanya kalau sudah mendaftarkan ini, pengadilan bisa memanggil pihak tergugat dan mempertemukan dengan pihak pengunggat untuk menyelesaikan suatu persoalan. Untuk selanjutnya, kita tunggu proses pengadilan karena itu sudah berada di wilayah pengadilan,” tuturnya.

Class action ini dilakukan karena Facebook masih belum mengungkapkan mengenai penyalahgunaan data pengguna oleh pihak ketiga, yaitu Cambridge Analytica. Dari 87 juta data yang disalahgunakan, 1.096.666 atau sekitar 1,3% dari total ini berasal dari Indonesia.

Penyalahgunaan data pengguna ini ditujukkan untuk mempengaruhi dalam kampanye Donald Trump pada Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016 lalu.

Sampai sejauh ini, Facebook masih saja belum mengungkap data-data yang khususnya dari Indonesia ini digunakan untuk tujuan apa. Hal itu yang membuat masyarakat Indonesia melakukan class action.

“Kita juga punya kepentingan, data kita ini digunakan untuk apa, untuk siapa, itu yang belum diketahui sampai saat ini. Jangan menunggu Inggris, pengguna Facebook di Indonesia malah lebih banyak dari mereka, mencapai 100 juta lebih,” tuturnya. (agt/rou)

Merasa dirugikan Facebook? Begini cara daftar masuk gugatan class action

Merasa dirugikan Facebook?

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Facebook digugat oleh Lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Informasi Indonesia (LPPMII) (penggugat 1), dan Indonesia ICT Institue (IDICTI) (penggugat 2) yang ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Dalam gugatan ini, para penggugat meminta adanya ganti rugi kerugian senilai total Rp 11,21 triliun. Rinciannya Rp 10,96 triliun merupkan ganti rugi imaterial, sementara sisanya senilai Rp 21,93 miliar sebagai ganti rugi material.

Kuasa hukum penggugat Jemy Tommy dari kantor hukum Equal & Co menjelaskan, ganti rugi ini dihitung dari kerugian yang didapatkan pengguna Facebook di Indonesia yang terdampak skandal. Cambridge Analytica.

“Kami menghitungnya tiap pengguna mendapatkan Rp 10 juta rupiah sebagai ganti rugi imaterialnya, dan senilai Rp 20.000 sebagai ganti rugi materialnya. Dikalikan seluruh pengguna Facebook di Indonesia yang terdampak, yang kita dapat angkanya dari siaran pers Kominfo,” kata Jemy saat dihubungi KONTAN, Senin (7/5)

Dari berkas gugatannya, kerugian material dihitung dari kerugian pengguna dari pembelian pulsa senilai Rp 20 ribu perpengguna. Sementara kerugian imaterialnya dinilai dari pengeluaran-pengeluaran yang tidak terduga serta segala kerugian yang timbul akibat beban mental dan tekanan psikologis yang telah membuat keresahan, kekhawatiran, ketidak nyamanan, dan menimbulkan rasa tidak aman terhadap para pengguna facebook di Indonesia.

“Jadi bagi pengguna Facebook di Indonesia yang menjadi korban dapat mendaftarkan diri ke nomor whatsapp dan alamat email kami. Itu yang kita ajukan ke Pengadilan, nanti diputuskan bisa atau tidak,” sambung Jemy.

Para pengguna Facebook di Indonesia yang menjadi korban dapat mendaftar melalui aplikasi Whatsapp ke nomor ponsel 08174865445 atau 08159003689. Dan juga melalui alamat surel [email protected] dengan melampirkan foto KTP pribadi, nama akun Facebooknya, nomor rekening bank yang bersangkutan, dan foto struk pembelian pulsa dan/atau data internet senilai minimal Rp 20 ribu pada 2018.

Jika gugatan ini dimenangkan penggugat, maka mekanisme distribusi uang ganti rugi akan berlaku secara tunai di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dan secara non tunai melalui transfer bank yang ditunjuk Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Sementara pembayaran akan dilakukan setelah tiga hari dana dicairkan. Ditambah distribusi juga akan menggunakan sistem nomor urut.

Facebook digugat di PN Jaksel Siang ini

Facebook digugat di PN Jaksel

Elshinta.com – Dua lembaga berencana melayangkan gugatan kepada Facebook atas kasus skandal penyalahgunaan data yang melibatkan data masyarakat Indonesia. Kedua lembaga itu adalah Indonesia ICT Institute dan Lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Informasi Indonesia (LPPMII).

Direktur Utama Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi menyebutkan salah satu alasan menggugat adalah karena ketidakjelasan mengenai kelanjutan kasus penyalahgunaan data masyarakat Indonesia tersebut. Oleh karena itu, mereka melayangkan gugatan untuk mewakili masyarakat Indonesia yang merupakan pengguna Facebook.

“Kami terpanggil bergerak untuk melakukan class action mengenai hal tersebut, agar masalah ini jelas dan terang seterang-terangnya,” ujar Heru, yang dikutip dari laman Tempo, Senin (7/5).

Rencananya gugatan itu akan didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada hari ini, Senin (7/5) pukul 13.00 WIB.

Lebih jauh Heru menjelaskan ada tiga pihak terguguat yang masuk dalam dokumen gugatan tersebut. Tergugat Pertama yakni Facebook, Tergugat Kedua yaitu Facebook Indonesia, dan Tergugat Ketiga adalah Cambridge Analytica.

Soal Privasi Data, Masyarakat Indonesia Gugat Facebook

CEO Facebook Mark Zuckerberg

Jakarta – Facebook digugat oleh masyarakat Indonesia terkait kasus penyalahgunaan data sejuta pengguna Facebook di Indonesia. Selain Facebook, Cambridge Analytica yang merupakan aktor dibalik penyalahgunaan data pengguna ini juga turut digugat.

Masyarakat Indonesia yang dimaksud, yakni seperti dari Indonesia ICT Institute dan Lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Informasi Indonesia (LPPMII).

“Masalahnya, seperti kita ketahui ada satu juta pengguna Facebook (di Indonesia) yang bocor yang. Sampai saat ini, kita berharap Facebook atau Kominfo memberikan penjelasan, ini siapa saja yang bocor, digunakan untuk apa. Ini yang tidak terjawab, makanya kita melakukan gugatan besok,” tutur Direktur Indonesia ICT Institute Heru Sutadi saat dihubungi detikINET, Minggu (6/5/2018).

Rencananya, besok Senin (7/5/2018) masyarakat Indonesia ini mendaftarkan gugatannya ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Berdasarkan informasi yang diterima, Facebook pusat yang beralamatkan di Menlo Park , Silicon Valley, Amerika Serikat sebagai Tergugat 1. Facebook Indonesia yang beralamatkan di Gedung Capital Place, Jakarta disebut Tergugat II dan Cambridge Analytica yang beralamatkan di New Oxford, London, Inggris sebagai Tergugat III.

Heru mengungkapkan gugatan ini mewakili masyarakat Indonesia yang turut terdampak dari kasus penyalahggunaan data pengguna Facebook oleh pihak ketiga, yakni Cambridge Analytica.

“Ini merupakan class action bukan dari lembaga saja tapi masyarakat karena Facebook tidak memberikan penjelasan yang kita terima. Kita juga pengguna Facebook,” ucap Heru menambahkan.

Begini Isi Gugatan Masyarakat Indonesia ke Facebook

Jakarta – Masyarakat Indonesia akan mendaftarkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk menggugat Facebook terkait penyalahgunaan data pengguna Indonesia yang mencapai satu jutaan.

Masyarakat Indonesia yang dimaksud, yakni seperti dari Indonesia ICT Institute dan Lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Informasi Indonesia (LPPMII). Mereka menggugat Facebook karena dinilai telah merugikan Indonesia.

“Ini hak gugatan dari masyarakat Indonesia. Langkah ini kita ambil untuk bersama-sama menggunakan hak kita. Negara tidak bisa melindungi, maka dari itu kita bergerak,” ujar Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi dalam sambungan telepon dengan detikINET, Minggu (6/5/2018).

Rencananya, besok Senin (7/5/2018) masyarakat Indonesia ini mendaftarkan gugatanya ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Berdasarkan informasi yang diterima, Facebook pusat yang beralamatkan di Menlo Park , Silicon Valley, Amerika Serikat sebagai Tergugat 1. Facebook Indonesia yang beralamatkan di Gedung Capital Place, Jakarta disebut Tergugat II dan Cambridge Analytica yang beralamatkan di New Oxford, London, Inggris sebagai Tergugat III.

Adapun sembilan poin isi gugatan masyarakat Indonesia terhadap Facebook dan Cambridge Analytica, yaitu sebagai berikut:

1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk keseluruhan;

2. Menyatakan perbuatan PARA TERGUGAT yang telah menyalahgunakan dan/atau membocorkan data-data pribadi pengguna media sosial Facebook di Indonesia adalah Perbuatan Melawan Hukum;

3. Menghukum PARA TERGUGAT untuk meminta maaf secara terbuka kepada pemerintah Indonesia dan masyarkat Indonesia khususnya pengguna Facebook di Indonesia dan dipublikasikan selama tujuh (7) hari berturut-turut di media massa nasional, baik cetak maupun elektronik;

4. Menghukum PARA TERGUGAT secara tanggung renteng untuk mengganti rugi:

4.a. kerugian materiil berupaya biaya data internet untuk mengakses Facebook sebesar Rp 20.000 (dua puluh ribu rupiah) untuk setiap pengguna Facebook atau total satu juta pengguna Facebook sebesar Rp 20.000.000.000 (dua puluh miliar rupiah) yang data-data pribadinya telah disalahgunakan dan/atau dibocorkan; dan

4.b. kerugian imateriil berupa beban mental dan tekanan psikologis yang membuat keresahan, kekhawatiran, ketidaknyamanan, dan menimbulkan rasa tidak aman terhadap para pengguna Facebook di Indonesia dengan nilai sebesar Rp 10.000.000 (sepuluh juta rupiah) untuk setiap pengguna Facebook atau total untuk satu juta pengguna Facebook sebesar Rp 10.000.000.000.000 (sepuluh triliun rupiah) yang data-data pribadinya telah disalahgunakan dan/atau dibocorkan.

5. Memerintah Pemerintah Indonesia cq Kemkominfo Republik Indonesia memblokir atau melarang akses media sosial Facebook di Indonesia sampai dengan seluruh amar putusan perkara a quo dilaksanakan oleh PARA TERGUGAT;

6. Menyatakan meletakkan sita jaminan terhadap gedung kantor Facebook Indonesia yang beralamatkan di gedung perkantoran Capital Place lantai 49, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Indonesia dan seluruh aset milik PARA TERGUGAT di wilayah hukum Indonesia, agar putusan a quo tidak sia-sia;

7. Menghukum PARA TERGUGAT, untuk tunduk dan taat terhadap putusan ini;

8. Menyatakan putusan ini dapat dilaksanakan terlebih dahulu meskipun ada upaya hukum perlawanan, banding, kasasi, dan/atau upaya hukum lainnya (uitvoerbaar bih voorraad);

9. Menghukum PARA TERGUGAT untuk membayar biaya-biaya yang timbul atas perkara ini.

 

Tersangkut Skandal Penyalahgunaan Data, Facebook Digugat di Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia ICT Institute dan Lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Informasi Indonesia (LPPMII) berencana melayangkan gugatan kepada Facebook atas kasus skandal penyalahgunaan data yang melibatkan data masyarakat Indonesia.

Direktur Utama Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengatakan ketidakjelasan mengenai kelanjutan kasus ini memaksa mereka melayangkan gugatan untuk mewakili masyarakat Indonesia yang merupakan pengguna Facebook.

“Kami terpanggil bergerak untuk melakukan class action mengenai hal tersebut, agar masalah ini jelas dan terang seterang-terangnya,” ujarnya kepada Bisnis melalui pesan singkat, Senin (7/5/2018)

Gugatan yang dilayangkan menyebut Facebook sebagai Tergugat 1, Facebook Indonesia sebagai Tergugat 2, dan Cambridge Analytica sebagai Tergugat 3. Adapun isi dari gugatan tersebut terdiri dari beberapa poin.

Pertama, mengabulkan gugatan Penggugat untuk keseluruhan. Kedua, menyatakan perbuatan Para Tergugat yang telah menyalahgunakan dan/atau membocorkan data-data pribadi pengguna media sosial Facebook di Indonesia adalah Perbuatan Melawan Hukum.

Ketiga, menghukum Para Tergugat untuk meminta maaf secara terbuka kepada pemerintah Indonesia dan masyarakat Indonesia khususnya pengguna Facebook di Indonesia dan dipublikasikan selama tujuh (7) hari berturut-turut di media massa nasional baik cetak maupun elektronik.

Keempat, menghukum Para Tergugat secara tanggung renteng untuk mengganti rugi sebagai berikut:
4.a kerugian materiil berupa biaya data internet untuk mengakses Facebook sebesar Rp20.000 (dua puluh ribu rupiah) untuk setiap pengguna Facebook atau total untuk satu juta pengguna Facebook sebesar Rp20.000.000.000 (dua puluh miliar rupiah) yang data-data pribadinya telah disalahgunakan dan/atau dibocorkan; dan

4.b kerugian imateriil berupa beban mental dan tekanan psikologis yang telah membuat keresahan, kekhawatiran, ketidaknyamanan, dan menimbulkan rasa tidak aman terhadap para pengguna Facebook di Indonesia, dengan nilai sebesar Rp10.000.000 (sepuluh juta rupiah) untuk setiap pengguna Facebook atau total untuk satu juta pengguna Facebook sebesar Rp10.000.000.000.000 (sepuluh triliun rupiah) yang data-data pribadinya telah disalahgunakan dan/atau dibocorkan.

Kelima, memerintahkan Pemerintah Indonesia cq Kemkominfo Republik Indonesia memblokir atau melarang akses media sosial Facebook di Indonesia sampai dengan seluruh amar putusan perkara a quo dilaksanakan oleh Para Tergugat.

Keenam, menyatakan meletakkan sita jaminan terhadap gedung kantor Facebook Indonesia yang beralamat di gedung perkantoran Capital Place lantai 49, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Indonesia dan seluruh aset milik Para Tergugat di wilayah hukum Indonesia, agar putusan a quo tidak sia-sia.

Ketujuh, menghukum Para Tergugat, untuk tunduk dan taat terhadap putusan ini. Kedelapan, menyatakan putusan ini dapat dilaksanakan terlebih dahulu meskipun ada upaya hukum perlawanan, banding, kasasi, dan/atau upaya hukum lainnya (uitvoerbar bij vorraad).

Kesembilan, menghukum Para Tergugat untuk membayar biaya-biaya yang timbul atas perkara ini.

Kuasa hukum Indonesia ICT Institute dan LPMII Jemy Tommy mengatakan rencananya mereka akan mendaftarkan gugatan tersebut ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Senin (7/5) pukul 13.00 WIB.

“Ya, siang ini,” ujarnya pada Bisnis saat dihubungi via telpon.

Editor : Annisa Margrit

Ayo Ikut Gugat Facebook, Begini Caranya

Ayo Ikut Gugat Facebook, Begini Caranya

VIVA – Executive Director dan Chief of Communication Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi mengajak pengguna Facebook Indonesia untuk turut menggugat media sosial raksasa tersebut.

Awal Mei lalu, Heru bersama Kamilov Sagala dari Lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Informasi Indonesia (LPPMII) mengajukan gugatan class action kepada Facebook global, Facebook Indonesia, dan Cambridge Analytica, menyusul kasus bocornya data 1,09 juta pengguna Indonesia yang memakai Facebook.

“Bagi masyarakat pengguna Facebook yang ingin memperkuat gugatan dan dukungan, bisa menyampaikannya lewat link www.idicti.com/wp,” ujar Heru melalui pesan singkat, Rabu 23 Mei 2018.

Dalam halaman situs #IndonesiaMenggugat Facebook itu, terdapat pengantar latar belakang skandal penyalahgunaan data 1 juta pengguna asal Indonesia. Selain itu ada ajakan ke pengguna untuk menggugat Facebook

“Ayo, dukung Gerakan #IndonesiaMenggugat Facebook untuk keamanan dan kenyamanan pengguna media sosial di Indonesia,” demikian tertulis di situs tersebut.

Pengguna Facebook Indonesia yang ingin gabung menggugat platform besutan Mark Zuckerberg diminta mengisi dan mengirimkan formulir yang berisi nama, alamat email, nomor telepon, dan fotokopi KTP.

Sidang gugatan terhadap Facebook dan Cambridge Analytica akan diselenggarakan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada tanggal 21 Agustus 2018. Heru mengatakan, pada awal Agustus, dia akan menggelar kumpul bareng dengan para pengguna Facebook di Jakarta. Tujuannya untuk membahas langkah selanjutnya setelah pengajuan gugatan serta memberikan dukungan selama menjalani persidangan.

“Diharapkan sekitar 25 persen dari 130 jutaan pengguna Facebook bisa hadir ke Jakarta untuk kumpul bareng dan bersilaturahmi,” ujar Heru.

Gugatan terhadap Facebook dan Cambridge Analytica didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Senin 7 Mei 2018. Dalam gugatan tersebut, penggugat menuntut ganti rugi materiil dan immateriil kepada Facebook dan Cambridge Analytica akibat bocornya data pengguna.

Dalam gugatannya, penggugat menuntut tergugat membayar ganti rugi sebesar Rp21,93 miliar, dengan rincian kerugian akses internet Rp20 ribu dikalikan 1,096 juta pengguna Facebook di Indonesia, yang datanya disalahgunakan.

Dua Lembaga Gugat Class Action Facebook

Dua Lembaga Gugat Class Action Facebook

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Indonesia ICT Institute dan Lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Informasi Indonesia (LPPMII) menggugat class action facebook ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

“Kami sudah mendaftarkan class action ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada hari ini,” kata Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi di Jakarta, Senin (7/5/2018).

Menurutnya, dalam gugatan class action ini, ada tiga pihak sebagai tergugat, yaitu Facebook pusat yang beralamatkan di Menlo Park, Silicon Valley, Amerika Serikat sebagai Tergugat 1.

Facebook Indonesia yang beralamatkan di Gedung Capital Place, Jakarta, disebut Tergugat II dan Cambridge Analytica yang beralamatkan di New Oxford, London, Inggris sebagai Tergugat III.

Mengenai proses selanjutnya, usai mendaftakan class action ini, Heru mengatakan pihak belum tahu tahapan apalagi yang akan dilakukan karena saat ini proses tersebut sudah berada di wilayah pengadilan.

“Biasanya kalau sudah mendaftarkan ini, pengadilan bisa memanggil pihak tergugat dan mempertemukan dengan pihak pengunggat untuk menyelesaikan suatu persoalan. Untuk selanjutnya, kita tunggu proses pengadilan karena itu sudah berada di wilayah pengadilan,” tuturnya.

Class action ini dilakukan karena Facebook masih belum mengungkapkan mengenai penyalahgunaan data pengguna oleh pihak ketiga, yaitu Cambridge Analytica. Dari 87 juta data yang disalahgunakan, 1.096.666 atau sekitar 1,3% dari total ini berasal dari Indonesia.

Penyalahgunaan data pengguna ini ditujukkan untuk mempengaruhi dalam kampanye Donald Trump pada Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016 lalu.

Sampai sejauh ini, Facebook masih saja belum mengungkap data-data yang khususnya dari Indonesia ini digunakan untuk tujuan apa. Hal itu yang membuat masyarakat Indonesia melakukan class action.

“Kita juga punya kepentingan, data kita ini digunakan untuk apa, untuk siapa, itu yang belum diketahui sampai saat ini. Jangan menunggu Inggris, pengguna Facebook di Indonesia malah lebih banyak dari mereka, mencapai 100 juta lebih,” katanya. (JS)

Indonesia Gugat Facebook, Mark Zuckerberg Harus Minta Maaf ke Jokowi

Liputan6.com, Jakarta – Skandal penyalahgunaan satu juta data pengguna Facebook di Indonesia, berbuntut panjang. Terbaru, Facebook digugat oleh dua LSM asal Indonesia, Lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Informasi Indonesia (LPPMII) dan Indonesia ICT Institute (IDICTI).

Alasan kedua LSM menggugat Facebook tak lain karena skandal tersebut dianggap telah merusak kepercayaan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Bahkan salah satu poin gugatan mendesak CEO sekaligus pendiri Facebook untuk meminta maaf kepada Jokowi.

Gugatan Class Action ini seharusnya didaftar pada pekan lalu tetapi tertunda. Dan akhirnya, kedua pihak resmi mendaftar gugatan tersebut ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Senin (14/5/2018).

Dalam keterangan resmi yang diterima Tekno Liputan6.com, gugatan tersebut didukung oleh sejumlah kalangan masyarakat dan para pelaku NGO (Non-Government Organization) di Indonesia.

Berdasarkan keterangan Ketua LPPMII Kamilov Sagala, skandal kebocoran dan penyalahgunaan data pengguna Facebook telah menodai kehormatan dari Presiden Jokowi yang sempat mengunjungi Mark Zuckerberg di kantor pusat Facebook, Menlo Park, Silicon Valley, Amerika Serikat (AS) pada 2017.

“Itu jelas saja telah melukai semua rakyat Indonesia,” kata Kamilov.

Karenanya, Kamilov ingin Mark Zuckerberg dan seluruh petinggi Facebook meminta maaf kepada Jokowi serta rakyat Indonesia secara tertulis dan terbuka ke seluruh dunia. Permintaan maaf menurutnya tak perlu menunggu putusan pengadilan.

Serius dan Mendesak

Pada kesempatan yang sama, Ketua IDICTI Heru Sutadi, menilai Facebook sebaiknya merilis daftar akun pengguna yang disalahgunakan kepada publik.

“Ini serius dan mendesak, kedaulatan, dan keamanan negara RI harus diutamakan,” katanya.

Heru melanjutkan, kenyataannya konten negatif di Facebook Indoneisa cuma sebagian kecil saja yang bisa ditanggulangi. Padahal, konten negatif terus tumbuh setiap detik.

“Memang pahit bagi Facebooker Indonesia jika Facebook diblokir. Tapi pahit itu harus kita telan untuk kedaulatan dan keamanan negara. Tutup atau mati, merdeka berdaulat, titik,” tegasnya.

Bukan Masalah Menang Kalah

Kemudian kuasa hukum Rhama R.V. yang juga menjadi Managing Partner Law Office Equal & Co. Counselors and Attorneys at Law, berkata gugatan Class Action kepada Facebook ini bukan perkara siapa yang menang atau kalah. Tetapi justru bertujuan agar dunia bisa tahu rakyat Indonesia taat dan sadar hukum.

“Bagaimanapun, hukum harus ditegakkan, walau langit runtuh,” pungkas Rhama.

(Jek/Ysl)