Indonesia Menggugat Facebook

Indonesia Menggugat Facebook

Facebook mengungkapkan data terbaru yang mengejutkan. Penyalahgunaan data pengguna yang mulanya diperkirakan sekitar 50 juta, diketahui kemudian bahwa ada sekitar 87 juta data pengguna menjadi korban.

Yang menarik, Indonesia juga kena imbasnya dan masuk tiga besar negara yang berdampak pada penyalahgunaan data pengguna Facebook. Dari 87 juta pengguna yang bocor, 70,6 juta akun yang disalahgunakan berasal dari Amerika Serikat (AS), Filipina berada di posisi kedua dengan 1,2 juta akun, dan Indonesia ada di posisi ketiga dengan sekitar 1 juta akun. Tepatnya, dari total jumlah akun yang disalahgunakan, 1,3 persen di antaranya adalah milik pengguna Indonesia.

Ayo,  dukung Gerakan #IndonesiaMenggugat Facebook untuk Keamanan dan Kenyaman Pengguna Media Sosial di Indonesia.

Berikan dukungan Anda dengan melengkapi dan mengirimkan formulir isian di SINI

#INDONESIAMENGGUGATFACEBOOK

Melawan Jemawa Facebook

Logo facebook

Babak baru skandal Facebook kian bergulir. Awan kelabu masih menaungi Facebook dalam badai krisis data pengguna. Setelah berkali-kali menjelaskan bocornya data pengguna dan meminta maaf di berbagai forum, Facebook kini menghadapi badai baru dalam kasus tersebut.

Media sosial raksasa besutan Mark Zuckerberg itu sedang menjadi sasaran tembak pengguna. Facebook dituding tak serius bertanggung jawab dan menangani masalah bocornya data 87 juta pengguna seluruh dunia, termasuk data 1,09 juta pengguna Facebook di tanah air.

Facebook dimejahijaukan di berbagai negara. Di kandang Facebook, Amerika Serikat, pada akhir Maret 2018, tiga pengguna mengajukan gugatan perwakilan kelompok (class action)di Mahkamah Federal di Distrik Utara California.

Tiga pengguna marah lantaran mereka menyadari Facebook telah menyusupi riwayat telepon dan SMS tanpa izin mereka melalui Messenger. Pengguna yang direkam riwayat telepon dan SMS itu merupakan pengguna Android.

Penggugat di AS menyatakan, media sosial itu telah melanggar sejumlah hukum dan peraturan, termasuk hak privasi konstitusi California, akses data komputer, dan Undang Undang Konsumen California.

Di Benua Biru, Facebook terancam eksistensinya. Sebab Uni Eropa akan memperbarui hukum privasinya agar informasi orang-orang yang diposting secara online menjadi lebih transparan. Pada 25 Mei 2018, Uni Eropa memberlakukan Regulasi Perlindungan Data Umum (General Data Protection Regulation/GDPR).

Pada aturan tersebut, perusahaan sistem elektronik akan dikenakan denda hingga 4 persen dari omzet global jika ketahuan melanggar aturan.

Gugatan di Negeri Paman Sam resonansinya sampai nun jauh di tanah air. Pada pekan pertama Mei 2018, Wakil kelompok yang direpresentasikan Kamilov Sagala dari Lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Informasi Indonesia (LPPMII) dan Heru Sutadi dari Indonesia ICT Institute (IDICTI), mengajukan class action kepada Facebook global, Facebook Indonesia, dan Cambridge Analytica, sebagai tergugat.

Class action di tanah air itu didaftarkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin 7 Mei 2018 dan belakangan pengadilan tersebut menjadwalkan sidang pada 21 Agustus 2018.

Gagal lindungi pengguna

Penggugat di Indonesia menuntut ganti rugi kepada Facebook dan Cambridge Analytica kerugian materiil dan immateriil dampak dari bocornya data pengguna tersebut.

Untuk kerugian materiil, penggugat menuntut Facebook dan Cambridge Analytica, membayar ganti rugi Rp21,93 miliar dengan rincian kerugian akses internet Rp20 ribu untuk tiap pengguna Facebook dikalikan 1,096 juta pengguna Facebook Indonesia.

Dalam gugatannya itu, penggugat menilai kerugian materiil berupa pengeluaran-pengeluaran yang timbul sejak munculnya berita kebocoran data-data pribadi milik masyarakat Indonesia pengguna Facebook.

“Antara lain biaya-biaya pulsa dan/atau data internet untuk mengakses, mengecek pengaturan (setting) aplikasi Facebook, mencari informasi berita-berita media onlineterkait kebocoran data pribadi pengguna Facebook,” demikian gugatan class action dari tanah air tersebut.

Penggugat juga meminta pengadilan menghukum tergugat membayar uang paksa sebesar Rp1 juta per hari dalam hal terlambat memenuhi isi putusan terhitung sejak putusan mempunyai kekuatan hukum yang tetap (incracht). 

Penggugat juga ingin Facebook meminta maaf secara tertulis dan terbuka kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia, khususnya pengguna Facebook Indonesia, selama 7 hari berturut-turut di media massa nasional baik cetak maupun elektronik, sejak putusan ini berkekuatan hukum tetap.

Selain itu, penggugat meminta pengadilan memblokir atau melarang akses Facebook di Indonesia dan melarang kegiatan operasional Facebook Indonesia di gedung perkantoran Capital Place Lantai 49 Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Dalam gugatannya, Facebook dan Cambridge Analytica dituding telah gagal memenuhi kewajiban sebagaimana tercantum dalam  ketentuan Permenkominfo Nomor 20 tahun 2016 tentang Perlindungan Data Pribadi, Pasal 15 ayat 2 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik.

Dengan kegagalan menjaga data pengguna, penggugat menilai Facebook dan mitranya itu, konsekuensinya gagal memenuhi hak kenyamanan konsumen/pengguna sesuai ketentuan pasal 4 huruf a Undang Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Ternyata belakangan Facebook juga diseret pengusaha muda Sam Aliano ke Bareskrim Polri. Perkaranya bukan penyalahgunaan data, Sam melaporkan Facebook dan YouTube karena diduga platform itu membantu teroris.

“Saya melaporkan YouTube dan Facebook karena perusahaan ini sudah berkali-kali diingatkan, tapi tidak mau ikut aturan yang ada di Indonesia yaitu memblokir konten-konten yang membahayakan rakyat,” kata Sam di Bareskrim Polri, Kamis, 24 Mei 2018.

Sam menuturkan, pada kedua platform itu bertebaran artikel cara merakit bom, ceramah doktrin teroris ISIS. Untuk itu layak untuk diseret ke jalur hukum.

Jangan jemawa

Panennya gugatan Facebook ini, menurut penggugat Facebook, Heru Sutadi, menjadi pelajaran bagi media sosial raksasa agar tak jemawa dan semena-mena dengan pengguna. Facebook harus belajar dari Indonesia, yakni berhati-hati dan meningkatkan keamanan dan dalam menjaga data pribadi pengguna, apalagi sampai menjual ke pihak lain.

“Jangan menjual data pengguna pada pihak lain. Selektif lah memantau aplikasi yang bekerja sama dan hormati aturan yang ada di suatu negara seperti Indonesia,” jelas Heru.

Untuk menggalang dukungan dalam menggugat Facebook, Heru mengajak pengguna di Indonesia meyampaikan dukungan dengan mengisi formulir online pada tautan www.idicti.com/wp.

Pengguna Facebook Indonesia yang ingin gabung menggugat platform besutan Mark Zuckerberg diminta mengisi dan mengirimkan formulir yang berisi nama, alamat e-mail,nomor telepon, dan fotokopi KTP.

Mantan Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia itu mengatakan dukungan terus mengalir. Per Kamis malam 23 Mei 2018, dukungan sudah menembus seribuan pengguna. Namun pihaknya masih mengklarifikasi data dukungan yang masuk.

Heru mengatakan, pada awal Agustus, dia akan menggelar kumpul bareng dengan para pengguna Facebook di Jakarta. Tujuannya untuk membahas langkah selanjutnya setelah pengajuan gugatan serta memberikan dukungan selama menjalani persidangan.

“Diharapkan sekitar 25 persen dari 130 jutaan pengguna Facebook bisa hadir ke Jakarta untuk kumpul bareng dan bersilaturahmi,” ujar Heru.

Sebelah mata

Dikepung dengan gugatan sana-sini, Facebook Indonesia masih diam seribu bahasa. Kepala Kebijakan Publik Facebook Indonesia, Ruben Hattari, belum bisa berbicara lebih jauh soal sidang gugatan yang berlangsung 21 Agustus 2018 di PN Jakarta Selatan.

“Enggak bisa komentar tentang itu (sidang gugatan)” jelas Ruben.

VIVA mengontak News Partnerships Lead Facebook Indonesia, Alice Budisatrijo, untuk mendapatkan keterangan lebih detail atas gugatan tersebut. Pesan instan yang dikirimkan VIVA sudah terbaca Alice, namun tak dibalas. Sambungan telepon tak tersambung.

Sedangkan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyilakan masyarakat untuk menggugat Facebook.

Ia juga tak merasa, pemerintah didahului dengan masyarakat sipil dalam menggugat Facebook. Menurutnya semua pemerintah di berbagai negara dunia punya cara masing-masing untuk menangani masalah penyalahgunaan data pengguna Facebook tersebut.

Kominfo, kata dia, fokus untuk menyiapkan sanksi bagi Facebook yang meliputi sanksi administrasi berupa teguran lisan, teguran tertulis dan sampai penghentian sementara. Dalam perjalanannya, Facebook sudah menerima Surat Peringatan dua kali dari Kominfo terkait skandal bocor data pengguna.

“Kemudian pemerintah lainnya, penegak hukum itu sanksinya kriminal. Bukan masalah keduluan, kalau saya sih pemerintah melakukan (langkah), masyarakat melakukan. Bagus-bagus saja, itu haknya masyarakat,” jelas Rudiantara ditemui di Jakarta, Rabu malam 23 Mei 2018.

Pemerintah bisa berdalih punya cara untuk menaklukkan Facebook. Namun Heru menilai langkah lembek pemerintah terhadap Facebook.

Heru mengatakan Facebook memandang sebelah mata penanganan bocornya data 1,09 juta pengguna. Facebook menilai Indonesia tak punya kekuatan untuk menaklukkan platform tersebut.

“Kita dianggap negara yang mungkin enggak berdaya atau akan tegas berani misal memblokir Facebook sehingga terkesan cuek saja dengan kebocoran yang terjadi. Tambah lagi pemerintah yang terkesan kurang tegas untuk memberikan sanksi,” jelas Heru. (one)

Amal Nur Ngazis, Lazuardhi Utama , Novina Putri Bestari , Gadis Neka Osika

Facebook Bungkam Saat Dikonfirmasi Panggilan Sidang PN Jaksel

Facebook memilih bungkam

Jakarta, CNN Indonesia — Kepala Kebijakan Publik Facebook Indonesia Ruben Hattari menolak berkomentar ketika ditanya terkait pemanggilan sidang.

“Nggak bisa (berkomentar). Ke acara ini dulu,” ujarnya saat ditemui di sela-sela peresmian pembukaan ruang komunal Indonesia di One Pacific Place, Jakarta, Rabu (23/5).

Seperti diketahui, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dijadwalkan akan menggelar sidang pertama kasus kebocoran data pengguna Facebook di Indonesia. Sidang tersebut akan digelar di sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 21 Agustus nanti.

“Sidang pertama skandal kebocoran data akan digelar pada Agustus,” kata Ketua Lembaga Pengembangan Masyarakat Informasi Indonesia (LPPMI) Kamilov Sagala melalui sambungan telepon kepada CNNIndonesia.com, Rabu (23/5).

Dalam gugatan ini, LPMII dan Indonesia ICT Institute (IDICTI) mewakili para pengguna Facebook di Indonesia. Direktur IDICTI Heru Sutadi mengatakan bahwa pihaknya akan menggugat Facebook Indonesia, Facebook pusat, dan Cambridge Analytica.

“Dalam surat pemanggilan, tergugat disebutkan dengan Facebook dkk. Itu maksudnya Facebook Indonesia, Facebook Pusat, dan Cambridge Analytica, ujar Heru saat dihubungi terpisah lewat pesan teks.

Surat pemanggilan sidang yang dimaksud telah tercatat di Pengadilan Jakarta Pusat dengan nomor perkara 396/Pdt.G/2017PN.JKT.SEL.

Surat tersebut memanggil Facebook sebagai pihak tergugat dan Lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Informasi Indonesia (LPMII) serta Indonesia ICT Institute (IDICTI) sebagai pihak penggugat.

Pihak penggugat juga menuntut agar Facebook mengganti kerugian material sebesar Rp 21,9 miliar dan ganti rugi imaterial Rp10,9 triliun. (age/evn)

Menkominfo: Bagus, Facebook Disidang di Indonesia

rdpu-komisi-i-dengan-facebook-indonesia

VIVA – Pengguna Facebook Indonesia yang diwakili Indonesia ICT Institute dan Lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Informasi Indonesia atau LPPMII menggugat Facebook dan Cambridge Analytica. Gugatan class action dilakukan kepada dua lembaga itu menyusul bocornya data 1,09 pengguna Facebook di Indonesia.

Sidang gugatan terhadap Facebook dan Cambridge Analytica akan diselenggarakan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 21 Agustus 2018.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menganggap santai gugatan tersebut. Menurutnya itu menjadi hak dari masyarakat untuk melaporkan.

Ia juga tak merasa, pemerintah didahului dengan masyarakat sipil dalam menggugat Facebook. Menurutnya semua pemerintah di berbagai negara dunia punya cara masing-masing untuk menangani masalah penyalahgunaan data pengguna Facebook tersebut.

“Kominfo sanksinya, sanksi administrasi: teguran lisan, teguran tertulis, penghentian sementara. Kemudian pemerintah lainnya, penegak hukum itu sanksinya kriminal. Bukan masalah keduluan, kalau saya sih pemerintah melakukan (langkah), masyarakat melakukan. Bagus-bagus saja, itu haknya masyarakat,” jelas Rudiantara ditemui di Jakarta, Rabu malam 23 Mei 2018.

Menurutnya, sanksi dari pemerintah untuk Facebook masih dalam proses, termasuk sanksi administrasi yang diberikan oleh Kominfo. Ia mengklaim, selain proses di Kominfo, kepolisian juga terus memproses kasus Facebook.

Executive Director dan Chief of Communication Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi dalam pesan singkatnya mengajak pengguna Facebook Indonesia untuk ikut menggugat media sosial tersebut lewat situs www.idicti.com/wp.

Gugatan terhadap Facebook dan Cambridge Analytica didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Senin 7 Mei 2018.

Dalam gugatannya, penggugat menuntut ganti rugi materiil dan immateriil kepada Facebook dan Cambridge Analytica akibat bocornya data pengguna.

Penggugat meminta pengadilan menghukum tergugat membayar ganti rugi sebesar Rp21,93 miliar, dengan rincian kerugian akses internet Rp20 ribu dikalikan 1,096 juta pengguna Facebook di Indonesia, yang datanya disalahgunakan.

Sidang Gugatan Atas Facebook Dimulai Agustus Mendatang

Vice President and Public Policy Facebook Asia Pacific Simon Milner

Bisnis.com JAKARTA — Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengumumkan jadwal persidangan terkait gugatan yang dilayangkan Indonesia ICT Institute (IDCTI) dan Lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Informasi Indonesia (LPPMII) terhadap Facebook.

Berdasarkan surat panggilan sidang, IDCTI dan LPPMII sebagai penggugat diharapkan hadir pada sidang perdana yang akan dilaksanakan pada 21 Agustus mendatang pukul 09.00 di Pengadilan Jakarta Selatan.

“Perlunya hadir di dalam pemeriksaan perkara perdata mengenai gugatan yang telah didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Selata dengan register perkara Nomor 296/Pdt.G/2017/PN.JKT.SEL.,” demikian kutipan dari surat panggilan tersebut.

Adapun dalam keterangan tertulis, Ketua Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengajak masyarakat untuk mendukung gugatan terhadap Facebook dengan mengisi pernyataan dukungan melalui tautan www.idicti.com/wp

Selain itu, menurutnya pada awal Agustus mendatang IDCTI dan LPPMII akan menggelar acara Kumpul Bareng Facebookers di Jakarta untuk membahas langkah gugatan terhadap Facebook dan memberikan dukungan dalam persidangan.

“Diharapkan sekitar 25% dari 130 jutaan pengguna FB bisa hadir ke Jakarta untuk kumpul bareng dan bersilaturahmi,” katanya.

Sebelumnya, IDCTI dan LPPMII mendaftarkan gugatan terhadap Facebook melalui kuasa hukumnya pada Senin (14/5/2018) lalu. Dalam gugatan tersebut, Facebook (Pusat) dinyatakan sebagai Tergugat 1, Facebook Indonesia sebagai Tergugat 2, dan Cambridge Analytica sebagai Tergugat 3.

Dalam gugatan tersebut, hal yang diminta oleh Indonesia ICT Institute dan LPPMII salah satunya Facebook harus meminta maaf secara terbuka kepada pemerintah Indonesia dan masyarakat Indonesia dan dipublikasikan selama 7 hari berturut-turut di media massa nasional baik cetak maupun elektronik.

Mereka juga menggugat Facebook untuk memenuhi ganti rugi materiel sebesar Rp 20 miliar kepada setiap pengguna Facebook yang datanya terdampak serta ganti rugi imateriel senilai total Rp 10 triliun rupiah.

Selain itu, mereka meminta Kemenkominfo memblokir atau melarang akses Facebook di Indonesia sampai amar putusan perkara quo dilaksanakan para tergugat.

Hingga saat ini pihak Facebook belum memberikan tanggapan atas gugatan tersebut.

Editor : Demis Rizky Gosta

Facebook Mau Disidang, Penggugat Galang Dukungan

Facebook Resmi Digugat Class Action di Indonesia

Jakarta – Jadwal sidang perdana gugatan class action kepada Facebook telah ditetapkan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Pihak tergugat pun mengajak masyarakat lainnya untuk berperan aktif dalam gugatan kepada Facebook.

Asal muasal gugatan ini terkait kasus skandal penyalahgunaan data pengguna oleh pihak ketiga Facebook, yaitu Cambridge Analytica. Dari 87 juta, satu juta diantaranya merupakan berasal dari Indonesia.

Gugatan ini dilakukan oleh Lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Informasi Indonesia (LPPMI) dan Indonesia ICT Institute (IDICTI) yang mengatakan mewakili masyarakat Indonesia.

“Sidang gugatan terhadap Facebook dan Cambridge Analytica jadwal nya sudah keluar, pada Agustus mendatang,” ujar Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi dalam pernyataannya, Rabu (23/5/2018).

Heru mengajak bagi masyarakat Indonesia, khususnya pengguna Facebook yang ingin memperkuat gugatan dan dukungan, bisa menyampaikannya lewat link www.idicti.com/wp .

“Menurut rencana, di awal Agustus kita juga akan menggelar Kumpul Bareng Facebookers di Jakarta untuk membahas langkah lanjutan gugatan terhadap Facebook dan memberikan dukungan dalam persidangan,” tuturnya.

“Diharapkan sekitar 25% dari 130 jutaan pengguna FB bisa hadir ke Jakarta untuk kumpul bareng dan bersilaturahmi,” kata Heru menambahkan. (agt/fyk)

Sumber : inet.detik.com

Indonesian Institutions File Class Action against Facebook

The Facebook logo

TEMPO.COJakarta – Two institutions plan to file a lawsuit against Facebook over the data misuse scandal involving Indonesians’ personal information. The Indonesia ICT Institute and the Indonesian Society for Information Empowerment Development (LPPMII) said the lawsuit represented the Indonesian people who are users of Facebook.

ICT Institute president director Heru Sutadi said one of the reasons for the lawsuit was the uncertainties surrounding the continuation of case involving the misuse of Indonesians’ data.

“We are called to file a class action on the matter, so that the problem becomes as clear and bright as possible,” Heru said on Monday, May 7.

Heru explained that the class action is filed against three defendants; Facebook, Facebook Indonesia, and Cambridge Analytica.

Jemy Tommy, the legal representatives of both institutions, said the lawsuit would be registered at the South Jakarta District Court today, Monday at 13:00 local time.

Among the demands made by the plaintiffs are to have Facebook apologize openly to the Indonesian government and the people of Indonesia, especially Facebook users in Indonesia. The apology must be published for seven consecutive days in national media—both print and electronic.

The plaintiffs also asked the defense to compensate users. The material compensation demanded is in the form of internet data charges to access Facebook, amounting to Rp 20,000 per every Facebook user, or totaling at some Rp20 billion for the one million Indonesians who are registered as Facebook users.

To compensate for non-material losses caused, the plaintiffs are demanding Facebook to pay Rp10 million for each Facebook user, or around Rp 10 trillion in total.

Sumber : Tempo

Jadi Sasaran Gugatan Class Action Dua Pihak di Indonesia, Facebook Pilih Diam

Logo facebook

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Facebook Indonesia enggan menanggapi niat Lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Informasi Indonesia (LPPMII), dan Indonesia ICT Institue (IDICTI) yang hendak menggugat Facebook ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan melalui gugatan class action.

“Untuk saat ini kami belum bisa memberi keterangan terkait berita adanya gugatan tersebut,” sebut Communication Lead Facebook Indonesia Putri Dewanti dalam pesan pendeknya kepada KONTAN, Selasa (8/5/2018).

Facebook Indonesia akan jadi tergugat 2, bersama Facebook pusat yang berkantor di California, Amerika, (sebagai tergugat 1) dan Cambridge Analytica (tergugat 3) rencananya akan digugat oleh dua lembaga tersebut terkait skandal boocornya data-data pribadi pengguna Facebook.

Jemy Tommy, kuasa hukum penggugat dari kantor hukum Equal & Co sebelumnya menyatakan bahwa gugatan hendak dilayangkan lantaran dalam skandal tersebut ada beberapa regulasi yang dilanggar.

Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika 20/2016 tentang Perlindungan Data Pribadi; PP 82/2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik, dan UU 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen.

“Tindakan para penggugat telah melanggar peraturan terkait perlindungan data pribadi, dan mengabaikan hak para penggugat,” kata Jemy saat dihubungi KONTAN, Senin (8/5/2018).

Jemy menambahkan, rencananya gugatan akan didaftarkan Senin (8/5/2018) kemarin.

Namun hal tersebut diurungkan lantaran Pengadilan Negeri Jakarta Selatan meminta beberapa salinan berkas berbahasa asing. Sebab ada tergugat yang berasal dari luar Indonesia.

Dalam gugatan ini, para penggugat meminta adanya ganti rugi kerugian senilai total Rp 11,21 triliun. Rinciannya Rp 10,96 triliun merupkan ganti rugi imaterial, sementara sisanya senilai Rp 21,93 miliar sebagai ganti rugi material.

Jemy menjelaskan, ganti rugi ini dihitung dari kerugian yang didapatkan pengguna Facebook di Indonesia yang terdampak skandal.Cambridge Analytica.

“Kami menghitungnya tiap pengguna mendapatkan Rp 10 juta rupiah sebagai ganti rugi imaterialnya, dan senilai Rp 20 ribu sebagai ganti rugi materialnya. Dikalikan seluruh pengguna Facebook di Indonesia yang terdampak, yang kita dapat angkanya dari siaran pers Kominfo,” papar Jemy.

Dari berkas gugatannya, kerugian material dihitung dari kerugian pengguna dari pembelian pulsa senilai Rp 20 ribu per pengguna.

Sementara kerugian imaterialnya dinilai dari pengeluaran-pengeluaran yang tidak terduga serta segala kerugian yang timbul akibat beban mental dan tekanan psikologis yang telah membuat keresahan, kekhawatiran, ketidak nyamanan, dan menimbulkan rasa tidak aman terhadap para pengguna facebook di Indonesia.

Laporan Reporter Kontan, Anggar Septiadi

Editor: Choirul Arifin

Sumber: TribunNews

Bakal digugat class action, Facebook enggan komentar

Facebook Resmi Digugat Class Action di Indonesia

Facebook Indonesia enggan menanggapi niat Lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Informasi Indonesia (LPPMII), dan Indonesia ICT Institue (IDICTI) yang hendak menggugat Facebook ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan melalui gugatan class action.

“Untuk saat ini kami belum bisa memberi keterangan terkait berita adanya gugatan tersebut,” balas pesan pendek Communication Lead Facebook Indonesia Putri Dewanti kepada KONTAN, Selasa (8/5).

Facebook Indonesia akan jadi tergugat 2, bersama Facebook (tergugat 1) pusat yang berkantor di California, Amerika, dan Cambridge Analytica (tergugat 3) rencananya akan digugat oleh dua lembaga tersebut terkait skandal boocornya data-data pribadi pengguna Facebook.

Jemy Tommy, kuasa hukum penggugat dari kantor hukum Equal & Co sebelumnya menyatakan bahwa gugatan hendak dilayangkan lantaran dalam skandal tersebut ada beberapa regulasi yang dilanggar.

Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika 20/2016 tentang Perlindungan Data Pribadi; PP 82/2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik, dan UU 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen.

“Tindakan para penggugat telah melanggar peraturan terkait perlindungan data pribadi, dan mengabaikan hak para penggugat” kata Jemy saat dihubungi KONTAN, Senin (8/5).

Jemy menambahkan, rencananya gugatan akan didaftarkan Senin (8/5) kemarin. Namun hal tersebut diurungkan lantaran Pengadilan Negeri Jakarta Selatan meminta beberapa salinan berkas berbahasa asing. Sebab ada tergugat yang berasal dari luar Indonesia.

Dalam gugatan ini, para penggugat meminta adanya ganti rugi kerugian senilai total Rp 11,21 triliun. Rinciannya Rp 10,96 triliun merupkan ganti rugi imaterial, sementara sisanya senilai Rp 21,93 miliar sebagai ganti rugi material.

Jemy menjelaskan, ganti rugi ini dihitung dari kerugian yang didapatkan pengguna Facebook di Indonesia yang terdampak skandal.Cambridge Analytica.

“Kami menghitungnya tiap pengguna mendapatkan Rp 10 juta rupiah sebagai ganti rugi imaterialnya, dan senilai Rp 20 ribu sebagai ganti rugi materialnya. Dikalikan seluruh pengguna Facebook di Indonesia yang terdampak, yang kita dapat angkanya dari siaran pers Kominfo,” papar Jemy.

Dari berkas gugatannya, kerugian material dihitung dari kerugian pengguna dari pembelian pulsa senilai Rp 20 ribu perpengguna. Sementara kerugian imaterialnya dinilai dari pengeluaran-pengeluaran yang tidak
terduga serta segala kerugian yang timbul akibat beban mental dan tekanan psikologis yang telah membuat keresahan, kekhawatiran, ketidak nyamanan, dan menimbulkan rasa tidak aman terhadap para pengguna facebook di Indonesia.

Sumber: https://www.msn.com/id-id/berita/other/bakal-digugat-class-action-facebook-enggan-komentar/ar-AAwVCrI

Rudiantara Persilahkan Masyarakat Tuntut Facebook

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara

Jakarta, CNN Indonesia — Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mempersilakan masyarakat yang ingin melayangkan gugatan terhadap Facebook. Ia menilai gugatan itu sebagai hak tiap individu.

“Ya itu haknya masyarakat, boleh saja,” kata Rudiantara yang ditemui di kantornya, Senin (7/5) kemarin.

Hal ini terlontar karena ada dua lembaga swasta yang melayangkan gugatannya ke Facebook. Lembaga Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Informasi Indonesia (LPPMII) dan Indonesia Institute (IDICTI) yang melayangkan gugatan perwakilan kelompok (class action) terhadap Facebook dan Cambridge Analytica.

Kedua lembaga tersebut menggugat kantor pusat Facebook dan cabangnya yang ada di Indonesia. Hal itu terlihat dari surat tuntutan yang dikirim ke Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tertanggal 7 Mei 2018.

Menurut Rudiantara, gugatan tersebut sebagai konsekuensi yang wajar atas kebocoran data yang terjadi. Ia berasumsi ada kemungkinan yang mengadu itu yang datanya ikut disalahgunakan oleh Cambridge Analytica.

“Yang mengadu itu kan adalah masyarakat pengguna yang merasa dirugikan yang mungkin datanya juga terpapar,” imbuhnya.

LPPMII dan IDICTI menganggap Facebook telah gagal memenuhi tugasnya sebagai penyelenggara sistem elektronik sesuai Peraturan Menkominfo No.20/2016 tentang Perlindungan Data Pribadi.

Data dari 87 juta pengguna diakui oleh perusahaan yang bermukim di Menlo Park itu telah jatuh ke tangan konsultan politik asal Inggris, Cambridge Analytica. Data tersebut diduga dimanfaatkan oleh Cambridge Analytica untuk memengaruhi hasil Pilpres AS 2016.

Dari sekian banyak pengguna, lebih dari 1 juta akun di antaranya milik pengguna asal Indonesia. (age/age)